Mencintai, biasanya itu adalah "cinta terakhir". Seumur hidup dengan pacar yang dicintai dan mencintaiku. Cinta itulah impianku sejak dulu.
"Pembohong!! katanya mau pergi ma adik kamu Mako tapi kok malah sama Randy dan yang lainnya, ngeceng di ciwalk??" kataku marah pada Ren, pacarku.
"Itu terpaksa, mereka memaksa aku," bela Ren, ia memang merasa bersalah akan kesalahannya, padahal dia tahu aku benci sekali di bohongi.
"Kamu kan bisa menolaknya, kamu aja tuh yang lemah kalau diminta. Mereka jadi memanfaatkanmukan?" aku nggak kalah sengit menyerangnya. Bohong, adalah kata tabu dimataku, aku paling benci dibohongi, apalagi kalau yang membohongiku adalah orang terdekatku.
"Iya, maaf kan aku," kata Ren memohon.
"Oke, tapi kalau kamu berbohong, aku akan membunuhmu," hanya itu kata-kata yang ada di otakku, aku memang paling nggak bisa menahan diri kalau sedang marah, apalagi alasanku kenapa marah adalah bohong.
"Hush, Ai kata-katamu keterlaluan, kalau didengar tetangga gimana?" tanya mamaku yang kebetulan memang sedang ada di rumah. "Ai, papa dimutasi ke Jepang, mama maunya kamu ikut tapi karena kamu udah mau naik kelas 3 kamu menetap aja di sini, gimana?" tanya mamaku lagi sambil masih menggenggam telepon nir-kabel. Mungkin itu papa. Aku nggak bisa menjawab itu sekarang. Mama masuk lag ke rumah. Aku diam sejenak, apa yang harus kupilih? Jepang atau menetap?
"Jangan pergi,"
"Eh?"
"Jangan pergi, aku janji nggak akan bohong lagi, aku janji nggak akan selingkuh lagi, tapi kamu jangan pergi," ucap Ren dengan cepat dan bergetar.
Aku masih diam, bingung. Aku sangat mencintai Ren, mungkin dia adalah cinta terakhirku. Tapi ini terlalu mendadak. Jepang adalah negeri impianku setelah Prancis, bisa menetap dan sekolah disana adalah kesempatan yang nggak datang setiap hari, ini mungkin kesempatan pertama dan terakhir.
"Aku janji, aku bisa mati kalau kamu nggak ada di sisiku. Kumohon," kata Ren lagi membuatku bimbang. apa yang harus kupilih CINTA atau IMPIAN. Dua-duanya penting.
"Baiklah, tapi kamu harus nepatin janjimu," jawabku akhirnya. Aku lebih memilih Cinta, mungkin impianku bisa menunggu.
"Je t'aime" Ren mengucapkan kata yang sangat aku tunggu-tunggu. Aku mencintaimu. Rasanya aku nggak salah memilih Cinta.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
"Aduh," kepalaku sakit, ini udah kesekian kalinya.
"Kenapa? Kepalamu sakit lagi? Udah periksa ke dokter?" tanya Ren sambil mengelus lembut rambutku. Dia memang baik.
"Iya, Ai walaupun sakit sedikit tapi kamu harus check, jangan-jangan ada apa-apa lagi." kata Ve sahabat baikku.
"Iya ntar lah," kataku santai, sakit sih, tapi aku takut kalau ini penyakit yang "aneh".
"Eh liat, pita putihnya cantik ya?" kata Ve mengagetkanku.
"Ve, lo suka warna putih ya? cocok ma image lo," timpal Ren. "Kalo Ai suka warna apa?" tanyanya.
"Merah, karena merah adalah simbol cinta dan berani, aku ingin jadi orang yang berani dan penuh akan cinta, seperti namaku," jawabku berseri-seri. Merah, itu Cinta. Cinta itu kebahagian, aku ingin mendapatkannya semua.
"Cocok juga," bales Ren. Pembicaraan kami terhenti karena guru sudah masuk.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kamu diopname sehari untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata dokter mengagetkanku. Opname? Separah itukah?
"Apa penyakitnya dok?" tanyaku tak sabar.
"Nggak apa-apa kok, bukan hal yang besar, tapi kita mau pastikan aja," kata Dokter itu santai sambil menulis beberapa resep di kertas.
"Dok, saya nggak suka dibohongi, katakan saja langsung, saya nggak apa-apa," kataku menuntut. Terlalu sering di sinetron-sinetron terkini kalau penyakit pasien disembunyikan. Aku nggak suka, kalau iya kita punya penyakit yang membahayakan harusnya dibilang, biar kita bisa menikmati hidup disaat-saat terakhir.
"Baiklah, penyakitmu cukup berbahaya, mempengaruhi hidupmu," kata Dokter pelan dan hati-hati.
"Apa? Seberapa bahayanya dok? apa hidup saya terancam?" tanyaku bertubi-tubi. Kepanikan menghampiriku.
Dokter tidak menjawabnya dia hanya diam. Diam berarti iya.
"Makasih dok, saya permisi dulu," kataku lalu pergi meninggalkannya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Kenapa? Apa salahku Tuhan? Aku masih 17 tahun, masih ingin menikmati hidup, pacaran, menikah, punya anak, cucu, dan lainnya. Cobaan ini terlalu berat, aku tidak ingin kehilangan itu semua!!!
"Ai, udah malem, tidur lagi sayang!" kata mama dari bawah. aku beranjak ke kasur, untuk sementara aku nggak akan bilang ke semua orang tentang ini semua. "Ai, sayang, udah tidur?" tanya mama sambil membuka pintu kamarku. aku menutup mataku pelan. "Oh, sudah tidur. Mimpi indah ya sayang," kata mamaku sambil mengecup lembut keningku.
Duk. Pintu tertutup.
Air mataku tidak bisa kubendung lagi. Berapa kali lagi aku bisa merasakan kecupan hangat mama itu, Tuhan?
-------------------------------------------------------------------------------------------------
"BRUK"
Aduh! Rasanya aku tadi udah tertidur deh, ini dimana? Yang aku lihat hanya lapangan luas. Ini taman?
"Eh, rumah Ren dan Ve dimana, ya?" kata seseorang yang lewat dari depan taman itu.
Hatiku berdegup kencang. Ren dan Ve? Ini dimana? Apa mungkin ini masa depan?
Aku pergi kesebuah toko buku eceran, aku melihat-lihat tanggal koran. 29 Mei 2017.
Ini 8 tahun mendatang, apa maksudnya ini???
Aku terduduk lemas melihat koran itu. Ren dan Ve menikah, apa mungkin dia sudah mengkhianatiku, dia udah berjanji untuk selalu setia padaku, ia tidak bisa hidup tanpa diriku, tapi kok sekarang malah sama Ve. Apa mungkin karena aku telah tiada????
Aku beranjak ke sebuah rumah yang kutahu itu adalah rumah keluarga Ren dulu. Disana beberapa orang ramai berkumpul. Mungkin baru selesai pesta pernikahannya. Aku memberanikan diri masuk ke dalam sana. Pesta telah usai, sekarang hanya obrolan-obrolan ringan orang-orang terdekat mereka. Aku bisa melihat Ren dan Ve bersanding dengan sangat serasi, di sudut sana. Mataku panas, apa ini memang kenyataan masa depan?
Sesaat mataku dan Ren bertemu, dia sedikit terkejut, dan berjalan semakin mendekatiku. Aku panik, dan pergi menjauhinya. Ia mengejarnya.
Di lampu merah aku menyeberang jalan. Berhenti sesaat melihat keadaan. Dia berhenti, melihat kiri-kanan untuk menyeberang. Tapi saat itu mobil sedang ramai-ramainya. Dan lampu penyeberangan sudah merah.
"Ai, tunggu! Betulkah itu kau Ai?? TUNGGU!" teriak Ren dari ujung sana.
"PEMBOHONG, KATANYA KAMU TIDAK BISA HIDUP TANPAKU TAPI KENYATAANNYA??" bentakku marah. Sebuah truk besar melintasi jalan itu. Dengan kesempatan itu aku berlari bersembunyi.
"AI DIMANA, AI TUNGGU!!!!" kata Ren berteriak. Aku tidak mempedulikannya. Aku tetap dalam persembunyianku.
Ren berlari menuju kesuatu tempat. Aku mencoba mengikutinya diam-diam. Ke taman itu, taman tempat pertama kali aku dan Ren bertemu dan berikrar janji setia.
"Ren," panggil seseorang, aku bersembunyi dibalik pohon. Ve. "Ada apa?" tanya Ve lagi.
"Tadi aku melihat seseorang, yang sangat ingin aku temui saat ini," kata Ren bergetar.
"Ai?" tanya Ve dengan sorot mata sedih. "Ren... Aku pernah bilang, aku rela selamanya kau anggap aku orang ketiga, aku rela, jadi kamu jangan sesedih itu. Aku tidak ingin kau berbuat nekat seperti 6 tahun lalu," kata Ve dengan lembut sambil mengelus Ren lembu.
Hatiku sakit melihat kejadian itu. Apa yang terjadi 6 tahun lalu? Karena tidak tahan, aku pergi dari taman itu, berjalan terus, dan kembali ke rumah Ren. Taman rumah Ren penuh akan bunga warna merah.
"Aku suka warna merah, karena merah simbol cinta dan berani,"
Apa mungkin?
"Awas!!!!" kata seseorang berteriak saat aku menyeberang jalan.
"Kyaaaa!!!!!"
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Ini dimana? Apa aku sudah benar-benar mati?
"Eh," aku terkejut membaca karangan bunga di depan rumahku.
Ai Fitri Moenaf.
Ini apakah hari kematianku?
"Ren!" panggil seseorang yang suaranya kukenal. Ve. "Ren tunggu kau mau kemana?" kata Ve berusaha mengejar Ren. Aku mengikuti mereka berdua.
Sekolah.
Shit! Aku kehilangan langkah mereka berdua.
"REN!" Aku mendengar suara ribur dari atap. aku melihat Ren sedang berdiri di ujung atap. Aku berlari menuju atap gedung. Aku melihat Ve sedang berusaha menghentikan tindakan nekat Ren.
"Ren berhenti, jangan lakukan itu, kumohon," pinta Ve. Aku hanya bisa menonton, ini seperti adegan sinetron, apa benar ini yang akan terjadi?
Ve menarik kaki Ren ke dalam. Ren terjatuh di atap. Selamat. Aku melihat air mata Ren, untuk pertama kalinya. Padahal Ren adalah sosok yang tegar.
"Aku sudah pernah bilang padanya, kalau aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Tapi kenapa?" kata Ren pelan, bergetar, dan sorot mata yang sangat, sangat sedih.
"BRAK!" Ren memukulkan tangannya kelantai.
"Tuhan!!!!! Kenapa kau merebutnya??" teriak Ren sangat sedih.
"Ren, aku rela, aku rela untuk jadi orang ketiga, karena aku selalu mencintaimu, jadi kumohon, jangan mati konyol seperti itu. Aku rela menggantikan Ai untuk selamanya," kata Ve.
Kata-kata Ve mengagetkanku, Ve mencintai Ren, sejak kapan?
"Kamu mau jadi Ai?" tanya Ren sambil mengenggam tangan Ve.
Ve mengangguk dan tersenyum sendu. Ren memeluknya.
"Ai, Ai, Ai," kata Ren berulang-ulang. Ve menitikkan air mata. Aku nggak tahu kenapa ia menangis, apa karena Ren atau karena aku. Aku kaget, jadi bunga merah, orang ketiga itu maksudnya.
Astaugfirullah, jadi selama 6 tahun setelah kematianku itu, Ve selalu menggantikan posisiku. Jadi selama 6 tahun ini, Ren menganggap Ve hanya sebagai wujud diriku, ia tidak pernah menganggap Ve ada. Apa yang telah aku lakukan. Dua orang yang aku sayangi menderita. Dan semua itu karena aku.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
"Ada apa Ai?" tanya Ren.
Sekarang kami berada di taman dimana pertama kali kami bertemu.
"Aku sudah memutuskan untuk ikut ke Jepang," kataku pelan dan datar. Ren tampak terkejut akan keputusanku, ia ingin menjawab tapi sudah keburu aku potong. "Pacaran jarak jauh, bagiku mustahil, kita putus aja. Ve sangat menyayangimu, jadianlah dengannya," jelasku.
"Apa maksudmu, kamu pasti berbohong, kan??" tanya Ren marah. Dia mengguncang-guncang lengan tanganku.
Aku menepisnya. "Aku tidak suka berbohong, jadi Selamat Tinggal," kataku dan berjalan meninggalkannya. Ini yang terbaik.
"Ai tunggu, apa maksudmu, Ai jangan pergi! Kamu pasti bohonh, Ai!" kata Ren tidak mau terima.
Aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan. Air mataku tidak bisa aku bendung lagi.
Suatu hal yang paling kubenci malah aku lakukan. Tapi ini untuk kebaikan mereka berdua. Aku harus tegar.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Dua tahun kemudian Ai meninggal di rumah sakit di Jepang. Ai sudah meminta kepada kedua orang tuanya untuk tidak memberitahukan kematiannya kepada teman-temannya di Indonesia.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
6 tahun kemudian...
"Ah bunga merah," kata Ren sewaktu ia sedang menyiram taman bunganya.
"Kenapa Ren," tanya Ve.
"Nggak disini tumbuh bunga merah padahal semua bunga yang kita tanam adalah bunga putih," kata Ren tenang. Ia tersenyum. 2 tahun yang lalu ia baru diberitahu tentang kematian Ai karena penyakitnya. Jadi itu alasannya kenapa ia meninggalkanku. Supaya aku tidak sedih kalau kehilangan dia. Dasar, pikiranmu terlalu berat Ai. Terima kasih Ai, sekarang aku bahagia, sangan bahagia, itu karenamu...
Minggu, 24 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar