Senin, 20 Juli 2009

Kutu Kupret

Huaaamm.. hari yang sangat panjang. Detik demi detik berlalu lebih lambat rasanya. Aku tetap berdiri disini disini menunggumu hingga sang fajar ikut menemaniku. Pagi, siang, malam, dan sekarang sudah pagi menjelang. Aku menantimu.
“Oh, damn shit! Where is he?” tanyaku sebal. Perjanjian dari jam 5 pagi, dan sekarang sudah menunjukkan pukul 4.55 pagi dan batang hidungnya tidak juga kelihatan. Hari semakin dingin, udara pantai berhembus dengan kencang. “Kenapa aku setia menunggu si kutukupret dari pagi dan pagi lagi? Hantu apa yang sedang merasukiku?” tanyaku pada mentari yang sedang beranjak bangun, kutanya pada debur ombak yang bernyanyi merdu menemani kesendirianku.
“Ne,” seseorang memanggil namaku, aku tidak berbalik badan, yang terpaku terdiam. “Anne, ternyata kau datang lebih cepat dariku,” lanjutnya lagi.
Hatiku panas, mataku berair, hidungku sudah memerah, tapi apa dia katakan? Ternyata kau datang lebih cepat. Kampret! Aku sudah datang lebih dari 24jam yang lalu.
“Iya, tadi aku habis jogging,” kataku santai tetap menghadap ke pantai, tidak ingin melihat muka si kutu kupret yang telah membuatku mati kedinginan.
“Untunglah aku tidak telat,” katanya lagi.
“Iya, kau datang tepat pukul 5,”kataku dengan nada geram. Iya, jam 5 pagi hari berikutnya. SIal. “Ada apa? Kau memanggilku pagi-pagi buta begini?” tanyaku masih dengan nada yang sama. Sok Manis.
“Sebenarnya aku hanya ingin bilang, aku minta maaf sebelumnya. Bener-bener , minta maaf,” kata si “cowok kutukupret yang berani memintaku menunggu selama 24jam”.
Aku tetap tidak berniat untuk membalikkan badannya. Bagamaimana pun tampak terkonyol selama hidupku, tidak ingin diperlihatkan kepada si kutu kupret ini. Muka penuh dengan air mata kedinginan, ingus meler kemana-mana, dan gigi yang bergetar. Kalau diambil nih gambarku, pasti bisa jadi pengusir setan yang baik.
“Anne, aku ingin kita putus, aku sudah punya cewek baru, karena aku merasa aku bukan cowok yang baik untuk dirimu, maafkan aku,” lanjutnya.
OMG, what the hell, Shit, damned, tai, babi, anjing, semua kata umpatan keluar dari inang-inang otakku. Jadi ia membuatku menanti selama 24jam, hanya untuk mengatakan bahwa kita putus? SIAL.
Siiiinnngggg…
Diam menyelimuti kita berdua. Aku masih bisa merasakan dia ada dibelakangku. Aku melap mukaku sebentar, menguatkan diri agar tidak ada lagi air mata yang berani menerobos masuk dan membalikkan badan.
PLAK!
“OOuch” keluh si kutu kupret. Aku memakinya benar-benar memaki. “Eh, sial banget sih lo. Gue nunggu lo 24jam, ingat, kita janji kemarin jam 5 pagi. Kenapa kau malah datangnya 24jam setelahnya. Lo udah membuat gue menderita dan kedinginan, aku berharap dapat pelukan minta maaf yang hangat tapi apa yang kudapat? Permintaan putus? Anjrit banget sih lo! Lo kira ni dunia milik lo, lo buat janji lo ingkar, trus sekarang lo minta putus dari gue? Sial, anjing lo. Tai lo, babi lo! Aaaggghh” makiku.
“Udah?” tanya si kutu kupret lagi. Tapi kok suaranya lebih ngebass, dan lebih merdu sih? Apa aku sudah tidak bisa berfikir jernih? Aku mendongakkan kepala untuk menatap mata bajingan satu ini. OMG! “Udah selesai makiannya?” tanyanya lagi.
“Udah terus kenapa?” tanyaku tidak tahu malu. Si kutu kupret yang ku tampar dan kumaki-maki tadi adalah orang yang salah. The real kutu kupret udah lari tunggang langgang meninggalkanku setelah aku mengatakan putus. Sekarang yang berdiri di hadapanku ini adalah kutu kupret yang lebih kutu kupret lagi. Kenapa dia ada disini?
Si kutu kupret yang lebih kutu kupret ini melingkarkan jaketnya ke badanku, menarikku, dan membawaku ke dalam mobilnya. Mau apa dia?
“Lebih baik dia lo minum ini dulu dan makan ini, kamu udah nggak makan dari kemarin kan?” katanya si kutu kupret yang lebih kutu kupret lagi.
“Mau apa lo kesini prĂȘt? Eh, No,” kataku canggung. Si kutu kupret yang lebih kutu kupret lagi ini namanya Norri, dia teman dari temannya temanku. Aku tidak sengaja mengenalnya di kantor?).
“Menurut lo kenapa gue ada disini?” tanya si kutu kupret yang lebih kutu kupret lagi aka Norri. Coklat hangat pemberiannya memang sangat menenangkan. Air mataku tiba-tiba menyeruak keluar. Anjir, ni air mata tidak pamit izin dulu kalau mau keluar dari rumah. “Sssstt.. udah dong nangisnya kalau diliat sama orang dari luar, kayak gue habis berbuat sesuatu yang sangat hina kepada lo.. ssstt.. please, please, please, diem ya,” kata si Norri (kalau si kutu kupret yang lebih kutu kupret ini sedang baik, aku berbaik hati juga dengan memanggilnya Norri.
Norri membelai lembut rambutku yang sudah berantakan ditiup angin pagi, siang, malam, dan pagi lagi. Lalu diapitkannya ke telingaku. Kalau orang yang belum mengenal dia banget pasti akan terbuai dengan perilaku manisnya ini. Tapi tidak denganku. “Udah deh nangisnya. Jangan buat suasana lebih runyam lagi. Lo tuh uda 23 tahun tetapi kelakukan kayak masih ABG,” katanya.
Kampret!
“Eh, yang minta di tolongin lu siapa sih, jangan berbuat sok manis gini deh. Lagian apa juga salahnya kalau aku nggak mau berhenti menangis. Kalau kau tidak ingin direpotkan lebih baik biarkan aku keluar dan menangisi kehidupanku yang benar-benar sengsara!” seruku. Aku sedang benar-benar bĂȘte dan dia datang mengacaukan segalanya.
Aku meletakkan coklat panas itu ditempat semula, melepaskan jaket hangat (sebenernya mau saja kubawa kabut tapi gengsi), lalu membuka pintu mobil swift merah merona yang sudah di ceperin. Aku berjalan menjauh dari mobil itu. tidak peduli rasa pusing dan lemas anemiaku tiba-tiba kambuh. Terus berjalan semampuku. Yap, semampuku, karena kepalaku terasa berat setelah 1menitan berjalan. Dan habis itu semua gelap dan aku tidak tahu apa-apa lagi.


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar