Tuk..tuk..tuk..
Suara itu, sayup terdengar tapi jelas itu memang ada. Pasti. Semua tubuhku merinding, seperti ada angin aneh yang meniupi semua jaket alamiku ini. Suara apa itu?
Tuk..tuk..tuk..
Suara itu semakin jelas terdengar, semakin keras, dan semakin dekat. Tanganku mulai bergetar, jantungku berdebar, dan peluh dingin semakin membasahi setiap titik tubuhku.
Tuk..tuk..tuk..
Aaagghh.. stresku memuncak, jantungku berdebar makin kencang, kutatap setiap titik yang ada di sekelilingku, nihil. Apa itu? Setan? Tapi yang kutahu pasti itu tak mungkin, karena suara aneh dan semakin mendekat itu adalah suara langkah. Langkah pelan tapi kuat, ia bisa menggetarkan semuanya.
Tuk..tuk..tuk..
Berbagai macam umpatan sudah berada di otakku, berputar-putar, berharap bisa keluar. Kukuatkan iman dan terus menyebut-nyebut nama-Nya. Siapa dia? Pencuri? Pembunuh? Teroris? Ya, Tuhan, aku memang bukan hambamu yang paling taat, aku memang pernah bohong, pernah melupakanmu, tapi aku mengaku itu salah, tapi kenapa cobaan yang Kau berikan terlalu banyak dihari yang sama. Sejak pagi, segala macam kesialan telah menimpa, bos marah-marah tanpa sebab lalu menghukum lembur, teman-teman pada melupakan janjinya, Kai, tiba-tiba minta putus dariku. Hari apa ini? Hari kemalangan sedunia? (setidaknya duniaku).
Tuk..tuk..tuk..
TUHAN! Berikan aku ketenangan, setidaknya untuk malam ini, untuk malam milikku sendiri, berikan aku ketenangan, ketenangan dalam mimpiku.
Tuk..tuk..tuk..
Aaaggh, apa ini? Kenapa suara itu semakin keras dan tidak beraturan..
Aku mengintip dari gorden kamarku, terang, hanya itu yang bisa ku deskripsikan. rasanya tidak ada satu lampu di depan jendelaku, apa ini? Alien? Ufo?
Duk..duk..duk..
Suara itu berubah, berubah menjadi suatu gedoran, gedoran sangat keras dan tegas.
"Selamat malam, ada orang di dalam?" tanya pemilik semua yang membuat nyawaku setengah. Tengah malam, jam 11.45, bertamu? Apa-apaan dia? Apa tidak ada etika? "Kami dari kepolisian," lanjutnya, hal itu menjawab semua pertanyaanku, lampu, langkah, gedoran, dan suara yang nge-bass dan berwibawa. Secercah ketenangan menghampiri hatiku, jantungku perlahan berdetak normal.
Perlahan, tapi pasti, aku berjalan menuju ke arah ambang pintu kosan aku. Walau ketakutan masih menyelimutiku. Beberapa kali, otakku melarang seluruh anggota gerakku untuk berhenti, jangan nekat, kalau bukan polisi gimana? Tapi jauh di dalam hatiku mengatakan, bukalah, kalau bukan kau bisa teriak minta bantuan anak kosan lain.
"Ya, sebentar pak," kataku perlahan dan berusaha menenangkan diri. Polisi, Ndis, Polisi. Aku membuka pelan pintu dengan sangat perlahan. Harusnya aku membuat celah di pintu, seperti di hotel-hotel itu. kenapa tak terpikirkan sebelumnya? Tapi terlambat. "Ada ap~KYAAAAA..."
Rabu, 22 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar